Tuhan Tidak Berkata, Hanya Berisyarat
 
 
 

Sisa hujan tadi malam yang tak sempat diterjemahkan kaca jendela menjelma segelas teh hangat di awal musim hujan, Ketika matahari yang jauh lebih redup dan langit yang jauh lebih rebah berjalan perlahan mengikuti waktu. Barangkali Nona sudah banyak tahu, di musim ini kita tidak bisa membedakan mana waktu pagi, mana waktu siang dan mana waktu malam, Semuanya sama dan akan tetap sama.

Tahukah kamu? untuk beberapa waktu lalu yang masih bisa kita ukur dengan rumus matematika. Ketika bunga dandelion menjadi satu-satunya penguasa udara yang mampu mengembara di penjuru kubah bumi. Percaya atau tidak, ku titipkan sebuah pesan rahasia yang tak terbatas untukmu dan hanya untukmu. Kutitipkan setiap kata dengan hati-hati sambil membayangkan kamu menerimanya dalam keadaan yang utuh, lengkap dengan desau angin, bau rumput, siluet buah mangga, dan selembar daun jeruk yang sudah beberapa waktu lamanya kuletakkan di dalam saku baju kiriku, agar jika waktunya tiba dia bisa menerjemahkan dengan nyata setiap debar jantung ketika aku bersamamu.

Nona, apakah kamu menerimanya dalam keadaan yang seharusnya? Oh oke, mungkin banyak hal yang telah terjadi. Mungkin dalam perjalanannya yang panjang dia tersesat diantara gang-gang sempit dan rahasia, atau dia ditikam dari belakang ketika berjalan sendirian, atau dia disuap dengan beberapa lembar uang kertas, atau bahkan dia dikutuk untuk tidak dapat mengingat alasan mengapa dia ada dan memutuskan untuk mengembara di muka bumi. Nona, apalah dayaku?

Kutitipkan sebaris do'a, sederhana saja lengkap dengan namamu di setiap sisinya. hanya untuk mengingatkan diriku sendiri, bahwa Tuhan berisyarat dalam hujan, dalam kabut dan dalam senyummu sore itu.

Cijerah, Juni 2017

Kata kunci:

#sajak#prosa#sastra#dandelion#literasi#rahasia

 


    Jadilah Orang Pertama yang Berkomentar!!!